Jagalah “Keindahanmu” Dengan Sifat Malu

Jagalah “Keindahanmu” Dengan Sifat Malu

Assalamu’alaikum…wr…wb.
Sebuah sifat malu akan senantiasa menghiasi perilaku pemiliknya dengan cahaya dan keanggunan yang melekat padanya. Malu yang melekat pada seorang pria adalah sebuah akhlak terpuji, sedangkan malu pada seorang wanita adalah fitrah ilahi yang akan dapat membentengi dirinya dimanapun dan kapanpun juga.

Lalu, bagimanakah hakikat yang sebenarnya dari sifat Malu itu sendiri ??  Imam An-Nawani dalam Riyadhush Shalihin menulis bahwa para ulama pernah berkata,

((حقيقة الحياء : خُلق يبعث على ترك القبيح ويمنع من التقصير في حق ذي الحق))
“Hakikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain.”

Karena itulah, sungguh beruntung orang-orang yang masih memiliki rasa malu. Sahabat Ali bin Abi Thalib radiyallohu `anhu pernah berkata, “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya, niscaya orang-orang tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.” Bahkan, Rosululloh `Alaihis Sholatu Was Salam menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang keimanan. Abu Hurairah Radiyallohu `Anhu berkata bahwa Rosululloh `Alaihis Sholatu Was Salam bersabda,

((الإيمان بضع وسبعون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان))
“Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Muslim)

Artinya adalah, bahwa tidak akan ada sifat malu dalam diri seseorang yang tidak beriman. Akhlak yang mulia ini tidak akan kokoh tegak dalam jiwa orang yang tidak punya landasan iman yang kuat kepada Allah `Azza Wa Jalla. Sebab, rasa malu adalah pancaran dari cahaya iman yang ada dalam diri seseorang.

Begitu juga, sifat malu tidak akan mendatangkan keburukan. Justru sifat inilah yang senantiasa akan membawa kebaikan bagi pemiliknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الحياءُ لا يأتي إلابخير
“Sifat malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan” (HR. Bukhari)

Dengan kata lain, bahwa tidaklah seseorang kehilangan sifat malunya, maka yang akan tersisa dalam dirinya hanyalah keburukan semata. Buruk dalam ucapan, buruk dalam perangai dan tingkah laku. Kata Rasulullah :

((الحياء من الإيمان,  والإيمان في الجنة,  والبذاءة من الجفاء,  والجفاء في النار))
“Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi No.1932)

Lalu pertanyaannya sekarang adalah, dari manakah sifat malu tumbuh dan semakin berkembang?
Sifat Malu bersumber dari Muraqabatullah, yaitu ketika kita merasa senantiasa di bawah pantauan Allah `Azza Wa Jalla. Sifat Malu bersumber dari pemahaman serta pengamalan kita atas kalimat Ihsan, yaitu :

((أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ))
“Engkau menyembah Allah seakan melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu”

Yaitu sebagaimana jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas pertanyaan Jibril `Alaihis Salam. Sifat Malu akan muncul dalam diri kita ketika kita benar-benar menghayati bahwa Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Melihat, Alloh Maha Mendengar. Segala lintasan pikiran, niat yang terbersit dalam hati kita tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari pengawasan Aloh `Azza Wa Jalla.  Dan inilah sifat malu yang sesungguhnya. Sebagaimana telah datang dari sahabat Abdullah bin Mas’ud bahwa `Alaihis Sholatu Was Salam bersabda,

استحيوا من الله حق الحياء. قال: قلنا: يا رسول الله، إنا نستحي والحمد لله
قال: ليس ذاك، ولكن الاستحياء من الله حق الحياء أن تحفظ الرأس وما وعى،  والبطن وما حوى،  ولتذكر الموت والبلى
ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا، فمن فعل ذلك استحيا من الله حق الحياء
“Malulah kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.” Kami berkata, “Ya Rasulullah, alhamdulillah, kami sesungguhnya malu.” Beliau berkata, “Bukan itu yang aku maksud. Tetapi malu kepada Allah dengan malu yang sesungguhnya; yaitu menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dari apa yang dikehendakinya. Ingatlah kematian dan ujian, dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan alam akhirat, maka ia akan tinggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia memiliki sifat malu yang sesungguhnya kepada Allah.” (HR. Tirmidzi, No. 2382)

bersambung…..Isya’Allah….
Wassalam

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s