EMPAT RACUN HATI

Empat Racun Hati

Assalamu’alaikum….wr….wb.
Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), keluarganya, para sahabat dan para pengikut yang setia sampai hari kiamat. Amma ba’du.


⁠Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman,

⁠Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya.”(Al-Isra’: 36)


⁠Sesuatu yang paling mulia pada diri manusia ialah hatinya. Peran hati terhadap seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Pada kemudian hari nanti, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

⁠Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:


⁠”Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)


⁠Abu Hurairah rådhiyallåhu ‘anhu berkata,

⁠”Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya.”

⁠Hati adalah raja. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titahnya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Aktivitasnya tidak dinilai benar, jika tidak diniatkan dan dimaksudkan oleh sang hati. Pada kemudian hari, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.

⁠Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula, dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya, merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.

⁠Perumpamaan hati, ialah seperti sebuah benteng. Sedangkan syetan merupakan musuh yang hendak masuk ke dalam benteng tersebut, hendak menguasai dan merebutnya. Benteng tidak akan terlindungi, kecuali dengan menjaga pintu-pintunya. Orang yang tidak mengetahui pintu-pintu itu, tidak akan bisa menjaganya.

⁠Jadi, seseorang tidak bisa mengusir syetan kecuali dengan mengetahui pintu-pintu masuk yang dilewati syetan. Pintu-pintu masuk itu adalah sifat-sifat manusia yang jumlahnya sangat banyak. Dan kami akan menyebutkan empat pintu masuk syetan yang paling banyak tersebar dan berbahaya.

⁠Ketahuilah, hati dapat rusak sebagaimana halnya badan. Dan setiap kemaksiatan adalah racun hati. Ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya, memalingkan dari kebaikan dan menambah parah penyakitnya.

⁠Hati adalah pusat ilmu dan ketaqwaan, cinta dan benci, keragu-raguan dan bencana. Dialah yang tahu tentang Allah, dan jalan menuju kepadaNya. Dan anggota tubuh ini tidak lain hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya.

⁠Para salaf memperoleh kemenangan yang besar dan sangat unggul. Tidak lain karena kualitas mereka dalam ibadah-ibadah hati. Keistimewaan mereka dalam hal ini tidak ada tandingannya.

⁠Abdullah bin Mubarak råhimahullåh bersyair,

⁠”Kulihat dosa-dosa itu mematikan hati, Membinasakannya mengakibatkan kehinaan
⁠Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati, Selalu menjauhinya adalah yang terbaik bagi anda.”

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman,

⁠(yaitu) pada hari harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (Asy Syu’ara: 88 – 89)

⁠Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.

⁠Maka, barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu. Kemudian menjaganya, jangan sampai ada racun lain yang menggrogotinya.

⁠Adapun jika tanpa sengaja ia mengambil salah satunya, ia mesti bersegera untuk membuangnya dan menghapus pengaruhnya dengan cara bertaubat, beristighfar dan mengerjakan amal shalih yang dapat menghapus kesalahan.

⁠Yang dimaksud dengan empat racun hati yaitu:

⁠1 Banyak bicara
⁠2 Banyak memandang
⁠3 Banyak makan dan minum
⁠4 Banyak bergaul dengan sembarang orang

⁠Keempat racun ini merupakan sumber yang paling banyak tersebar, dan paling berbahaya bagi kehidupan hati.

Hati yang sehat adalah hati yang selamat, yaitu hati yang terbebas dari setiap racun-racun yang membahayakannya. Siapa saja yang menginginkan keselamatan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu, emudian menjaganya. Apa saja racun-racun itu?

⁠1. Banyak Bicara

⁠Lidah mempunyai pengaruh yang sangat besar. Keimanan dan kekafiran bisa tampak melalui lihad (syahadat). Barangsiapa melepaskan tali kendali lidahnya, maka syetanpun akan memperdayanya dari segala penjuru, sehingga menggiringnya menuju tepian jurang, kemudian menjatuhkannya sampai ke dasar.

⁠Dari Mu’adz rådhiyallåhu ‘anhu, dari Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

⁠”Dan tiadalah yang menelungkupkan wajah atau batang hidung manusia ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lidahnya.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, shahih)

⁠Banyak ayat Al Qur’an dan sabda Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) serta ucapan salafush shalih yang memperingatkan kita dari bahaya dan kerusakan lidah.

⁠Diantaranya firman Allah, yang artinya:

⁠”Tiadalah suatu perkataan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18).

⁠Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi rådhiyallåhu ‘anhu berkata,

⁠”Aku bertanya, “Ya Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), apakah yang paling anda takutkan terhadap diri saya?” Beliau (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Ini.” sambil memegang lidahnya.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Al Hakim dan Ad Darimi, shahih)

⁠Dari Uqbah bin Amir rådhiyallåhu ‘anhu berkata,

⁠”Ya Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), apakah keselamatan itu?” Beliau (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Peliharalah lidahmu”.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Mubarak, shahih)

⁠Beliau (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda pula,

⁠”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

⁠Dari Abu Hurairah rådhiyallåhu ‘anhu , bahwasanya ia mendengar Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

⁠”Sesungguhnya, seorang hamba berbicara dengan sebuah pembicaraan yang jelas (ia anggap biasa); ternyata hal itu membuat ia tergelincir ke dalam api neraka lebih jauh dari pada jarak timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

⁠Dari Abdullah bin Mas’ud rådhiyallåhu ‘anhumaa, ia berkata,

⁠”Demi Allah, tiada tuhan yang pantas disembah selain Dia. Tiada sesuatu pun yang lebih pantas untuk dipenjara lebih lama, (kecuali) dari lidahku.”

⁠Beliau rådhiyallåhu ‘anhumaa juga berkata,

⁠”Wahai lidah, berkatalah yang baik, kamu akan beruntung. Dan Diamlah dari yang buruk, (maka) kamu akan selamat, sebelum kamu menyesal.”

⁠Dari Abu Darda’ rådhiyallåhu ‘anhu berkata,

⁠”Berlakulah adil terhadap dua telinga dari lidah. Dijadikan untuk anda dua telinga dan satu lidah, supaya anda lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bencana lidah yang paling ringan yaitu berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah.”

⁠Simak racun hati berikutnya di antara empat racun hati yang sangat berbahaya yaitu banyak memandang. Bagaimana definisi “banyak memandang”? Bagaimana dalil-dalil serta peringatan dari Allah dan Rasul-Nya mengenai hal ini? Bagaimana penjelasan para ‘dokter’ penyakit hati?

⁠2. Banyak Memandang

⁠Yang dimaksud dengan banyak memandang, yaitu melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata, dan memandang kepada yang tidak halal untuk dipandang.

⁠Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya:

⁠Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”

⁠Katakanlah kepada wanita yang beriman, “

⁠(1.) Hendaklah mereka menahan pandangan mereka,
⁠(2.) dan memelihara kemaluan mereka,
⁠(3.) dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.
⁠(4.) dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedada mereka,
⁠(5.) dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada:

⁠- suami mereka,
⁠- atau ayah mereka,
⁠- atau ayah suami mereka,
⁠- atau putera-putera mereka,
⁠- atau putera-putera suami mereka,
⁠- atau saudara-saudara mereka,
⁠- (atau) putera-putera saudara laki-laki mereka,
⁠- atau putera-putera saudara perempuan mereka,
⁠- atau wanita-wanita Islam,
⁠- atau budak-budak yang mereka miliki
⁠- atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)
⁠- atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

⁠(6.) Dan Janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.

⁠Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.

⁠(QS An-Nur: 30 – 31)

⁠Dari Abu Hurairah rådhiyallåhu ‘anhu , dari Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, (yang artinya)

⁠Telah ditetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata, zinanya ialah memandang. Kedua telinga, zinanya adalah mendengar. Lidah, zinanya adalah berbicara, Tangan, zinanya adalah memukul (meraba). Kaki, zinanya adalah melangkah. Hati, berkeinginan dan berangan-angan. Dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu, adalah kemaluan.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

⁠Dari Jarir rådhiyallåhu ‘anhu berkata, Aku bertanya kepada Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) tentang pandangan (haram) yang tiba-tiba (tidak sengaja). Beliau menjawab, (yang artinya), “Alihkan pandanganmu.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan Ahmad)

⁠Berlebihan memandang dengan mata, menimbulkan anggapan indah terhadap apa yang dipandang dan mempertautkan hati yang memandang kepadanya. Selanjutnya, terlahirlah berbagai kerusakan dan bencana dalam hatinya, diantaranya:

⁠Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah Iblis

⁠Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya, yang ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.

⁠Pandangan merupakan pintu masuk syetan

⁠Sesungguhnya masuknya syetan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Syetan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati.

⁠Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu syetan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya tanpa ada gambaran wujud yang dipandangnya.

⁠Pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya. Akhirnya urusannya pun menjadi kacau. Dia menjadi selalu lalai dan mengakui hawa nafsunya.

⁠Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman,

⁠Dan janganlah kamu taat kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta urusannya kacau-balau. (QS. Al-Kahfi: 28)

⁠Demikianlah, melepaskan pandangan secara bebas mengakibatkan tiga bencana ini.

⁠Membiarkan pandangan lepas adalah maksiat kepada Allah dan dosa, sebagaimana firmanNya pada Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30 dan 31 yang telah disebutkan.

⁠Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya:

⁠Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat, dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS Al-Mukmin: 19)

⁠Membiarkan pandangan lepas menyebabkan hati menjadi gelap, sebagaimana menahan pandangan menyebabkan hati bercahaya.

⁠Bila hati telah bersinar, maka seluruh kebaikan dari segala penjuru akan masuk ke dalamnya. Sebaliknya apabila hati telah gelap, maka berbagai keburukan dan bencana akan masuk ke dalamnya, dari segala penjuru.

⁠Seorang yang shalih berkata,

⁠”Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah), menjaga pandangannya dari yang diharamkan, menjaga dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal haramnya), dan hanya memakan yang halal, firasatnya tidak akan meleset.”

⁠Mari kita lanjutkan ulasan selanjutnya mengenai empat racun hati yang sangat berbahaya bagi kehidupan hati kita. Dia adalah banyak makan dan minum. Hal ini telah menjadi perhatian Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) dan para ulama’. Banyak para ulama’ yang mengulas masalah ini dan memasukkannya ke dalam buku-buku mereka mengenai tazkiyatun nufus. Bagaimana hadits Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) dan penjelasan para sahabat dan para ulama’?

3. Banyak Makan dan Minum

⁠Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Nafsu ini pula, yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari Surga. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda. Yang akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

⁠Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan, akan mengakibatkan sebaliknya.

⁠Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman,

⁠Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf: 31)

⁠Dari Miqdam bin Ma’di Karib rådhiyallåhu ‘anhu berkata, Aku mendengar Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, (yang artinya):

⁠”Janganlah manusia memenuhi sebuah tempat yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapa (tiga sampai sembilan), untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, shahih)

⁠Ibnu Abbas rådhiyallåhu ‘anhumaa berkata,

⁠”Allah (subhanahu wa ta’ala) menghalalkan makan dan minum, selama tidak berlebih-lebihan dan tidak ada unsur kesombongan.”

⁠Berlebihan dalam makan, dapat mengakibatkan banyak hal buruk. Ia menggerakkan anggota tubuh untuk melakukan maksiat, serta menjadikannya merasa berat untuk taat dan ibadah. Cukuplah dua hal ini sebagai suatu keburukan.

⁠Dari Utsman bin Za’idah råhimahullåh berkata,

⁠”Sufyan Ats-Tsauri (råhimahullåh) berkirim surat kepadaku: ‘Apabila engkau ingin badanmu sehat dan ringan tidurmu, maka sedikitkanlah makanmu’.”

⁠Sebagian salaf berujar,

⁠Sebagian pemuda Bani Israil berta’abud (berpuasa sambil berkhalwat). Bila telah datang masa berbuka, salah seorang dari mereka berkata, “Jangan makan banyak-banyak, sehingga minum kalianpun banyak. Lalu tidur kalian juga banyak, akhirnya kalian banyak merugi.”

⁠’Aisyah meriwayatkan, sejak masuk Madinah, keluarga Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) belum pernah merasa kenyang oleh roti gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau wafat. (HR. Bukhari dan Muslim)

⁠Amir bin Qais berkata,

⁠”Berhati-hatilah engkau dari banyak makan. Karena hal itu menyebabkan kerasnya hati.”

⁠Abu Sulaiman Ad-Darimi berkata, “Kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah lapar.”

⁠Al-Harits bin Kaladah -salah seorang pakar kedokteran Arab pada masa lalu berkata,

⁠”Menjaga diri dari makanan (melebihi yang diperlukan), merupakan pangkal penyakit.

⁠Al-Harits berkata pula,

⁠Yang membunuh manusia dan membinasakan binatang-binatang buas di dunia ini, ialah memasukkan makanan di atas makanan sebelum selesai pencernaan.

⁠Ibrahim bin Adham berkata,

⁠”Barangsiapa memelihara perutnya, akan terpeliharalah diennya (agamanya). Dan barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlak yang terpuji. Sesungguhnya, kemaksiatan kepada Allah itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dengan seorang yang kenyang.”

4. Banyak Bergaul Dengan Sembarang Orang

⁠Ini merupakan penyakit berbahaya yang mengakibatkan banyak keburukan. Ia dapat menghilangkan nikmat dan menebarkan permusuhan. Ia juga menanamkan kedengkian yang dahsyat, serta mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat.

⁠Dalam bergaul, hendaknya kita mengklasifikasikan (membagi) manusia menjadi dua kelompok, yang baik dan buruk. Ketidakmampuan kita membedakan dua kelompok ini, dapat membawa bencana.

⁠Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya,

⁠Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an, ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku.” Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan: 27 – 29)

⁠Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman pula, yang artinya:

⁠Teman-teman akrab para hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa. (Az-Zukhruf: 67)

⁠Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

⁠Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup api (pandai besi), adakalanya memberi anda (minyak wangi), atau anda membeli darinya, atau anda mendapat bau wangi darinya. Adapun peniup api (pandai besi), adakalanya membakar pakaian anda, atau anda mendapatkan bau yang kuran gsedap darinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

⁠Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:

⁠Seseorang itu mengikuti agama sahabatnya. Maka, hendaklah kalian memperhatikan siapa sahabat kalian. (Hadits hasan, diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi)

⁠Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:

⁠Janganlah anda berteman melainkan dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu, kecuali orang bertaqwa. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud dengan sanad yang hasan)

⁠Berkata Umar bin Khathab rådhiyallåhu ‘anhu,

⁠”Janganlah anda berjalan bersama orang fajir (yang bergelimangan dalam dosa), karena dia akan mengajarkan kepada anda perbuatan dosanya.”

⁠Berkata Muhammad bin Wasi’,

⁠”Tiadalah tersisa dari kenikmatan dunia, selain shalat berjama’ah dan berjumpa dengan teman (yang shalih).”

⁠Berkata Bilal bin Sa’ad,

⁠”Saudaramu yang selalu mengingatkanmu akan kedudukanmu di sisi Allah adalah lebih baik bagimu, daripada saudaramu yang selalu memberimu dinar (harta benda).”

⁠Berkata sebagian salaf,

⁠”Orang yang paling lemah (tercela), yaitu orang yang tidak mau mencari teman (yang baik). Dan yang lebih lemah (tercela) daripadanya, ialah orang -yang apabila telah mendapatkan teman (yang baik)- ia menyiakannya.”

⁠Alangkah bahagianya, apabila kita diberi rezki oleh Allah berupa teman yang shalih. Teman yang selalu mengingatkan dan menasihati kita untuk tetap istiqamah, sehingga kita selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Itulah teman yang baik dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

⁠Semoga Allah senantiasa menyelamatkan hati kita dari segala racun dan kotorannya, sehingga kita selalu bersih dan bersinah sampai berjumpa denganNya. Aamiin, ya rabbal ‘aalamiin.
Semoga Bermanfaat….Insya’Allah
Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s