MENGGAPAI PUNCAK KEIMANAN

MENGGAPAI PUNCAK KEIMANAN

Assalamu’alaikum…wr…wb.
Sahabat semua Yg di Rahmati Allah..
Mu’adz bin Jabal menceritakan, katanya : Usai perang Tabuk kami bersama Rasulullah SAW, maka setelah aku tahu ada waktu senggang, kukatakan : Ya Rasulallah, beritahulah aku amalan yang dapat memasukkan aku ke surga. Jawab beliau : Hus!, kamu bertanya masalah besar, padahal sebenarnya mudah, bagi orang yang dimudahkan Allah. Yaitu : Lakukan shalat wajib, tunaikan zakat, dan bertamu Allah tanpa menyekutukan-Nya barang sedikitpun. Maukah kamu kutunjukkan pokok segala urusan, yaitu Islam, karena berangsiapa yang beragama Islam dijamin pasti selamat, kemudian tiangnya adalah shalat, sedang puncaknya adalah jihad di jalan Allah.

Dan maukah kamu kutunjukkan pintu-pintu kebajikan ? Yaitu : Puasa adalah perisai, sadang sedekah dan shalat di tengah malam dapat menutupi segala dosa. Lalu beliau membaca ayat S.As-Sajdah ayat 16, yang maknanya : “Lambung-lambung mereka meninggalkan tempat tidur, untuk berdo’a kepada Allah dengan penuh rasa takut akan adzb-Nya dan rasa ingin mendapatkan Surga, serta mengiinfaqkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepadanya. (HR Ahmad).

Apakah Jihad Itu ?
Dalam hadis di atas menerangkan bahwa jihad dikatakan sebagai puncak iman. Lalu apakah yang dimaksud dengan jihad itu ? Ini sering dipertanyakan, karena sering kita dengar jihad itu identik dengan pembunuhan atau perang. Bahkan sikap kekerasan. Padahal bukan sesederhana itu pengertian jihad.

Jihad berasal dari akar kata juhdun yang artinya susah payah. Sedang secara harfiyah jihad itu berarti bersungguh-sungguh. Sehingga dari sini, jihad dapat diartikan : Berjuang dengan sungguh-sungguh dengan susah payah, memperjuangkan tegaknya kalimatullah atau Islam.

Pengertian ini diambil dari sebuah riwayat : ‘an abii muusa qaala, suila Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa salam. ‘anir rojuli yuqaalu syajaa’atan wa yuqoolu hamiyyatan wa yuqololu riyaan ayyu dzaalika fii sabiilillahi faqoola rasulullaahi shollallahu alaihi wa sallam, man qootala litakuuna kalimatu llohi hiyal ‘ulyaa fahuwa fii sabiilillah. Artinya : Abu Musa meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, berperang karena fanatik daerahnya, dan karena ingin mendapatkan pujian (riya’), siapakah di antara mereka itu yang disebut fisabilillah ? Jawab Rasulullah SAW : ” Barangsiapa berperang dengan niat agar kalimatullah itulah yang tegak berdiri, maka dia itulah yang disebut fisabilillah”. (HR Muslim).

Jadi yang ditekankan dalam berperang adalah ” ‘ilai kalimatillah “, menegakkan hukum Allah. Sementara yang kita ketahui, baik di zaman Nabi SAW sendiri dan khulafaur rasyidin, terlaksananya syari’at tidak harus ada pembunuhan terlebih dahulu. Sehingga keberadaan orang kafir, tidak selamanya menghalang-halangi terlaksananya hukum Allah.

Karena itu, lalu dalam pemerintahan Islam ada sebutan kafir dzimmi yaitu orang-orang kafir yang mendapat perlindungan, ada pula kafir a’hdi yaitu orang-orang kafir yang terikat oleh perjanjian perdamaian dengan kaum muslimin untuk tidak saling bermusuhan, dan sikafir itu berjanji tidak akan memusuhi Islam. Dari sinilah. maka jihad berarti berjuang menegakkan hukum Allah dengan penuh kesungguhan tanpa mengenal lelah.

Dan untuk itu dapat ditempuh melalui pendidikan, pengajian, penulisan, diplomasi dsb.

Syekh Said Hawa, dalam bukunya Jundullah Tsaqafatan wa akhlaqan ketika menafsiri firman Allah “jihad bilamwal” dan “jihad bilanfus”, dalam Al-Quran surah At -Tubah 41 yang maknanya : Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Mengatakan, bahwa jihad bil amwal (jihad dengan harta), : Bisa dilakukan dengan mendirikan masjid, madrasah, rumah sakit dsb. Sedang jihad bil anfus, (jihad dengan diri), dapat dilakuan dengan mengajar, menulis, ceramah dsb. Sehingga bagian zakat untuk sabilillah, dari delapan ashnaf mustahiquzzakah bisa dilakukan dengan mendirikan masjid, sekolah, penerbitan surat kabat, majalah, radio, TV dsb.

Delapan ashnaf mustahiquzzakah tersebut adalah sebagaimana yang dimaksudkan dalam firman Allah SWT surah At Taubah : 60 yang maknanya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Yang berhak menerima zakat Ialah:

1. orang fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.

2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam Keadaan kekurangan.

3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.

4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.

5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

6. orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.

7. pada jalan Allah (sabilillah): Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.

8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Jihad seperti itu begitu panting, karena tanpa jihad kebatilan akan melanda masyarakat, keonaran (fitnah) tidak terelakkan, dan aqidah akan hancur. Justru itu jihad harus berjalan simultan.
Kata seorang budayawan Mesir Syauqi Bey : Qif duuna ra’yika fi hayaati mujaahidan. Innal hayaata aqiidatun wa jihaadun. (Pusatkan perhatianmu dalam hidup ini untuk berjihad. Karena hidup itu harus mempunyai aqidah dan berjihad).

Beda Jihad dengan Qital (Perang).
Jihad dalam pengertian di atas adalah sebuah perjuangan, sedang qital konotasinya adalah pembunuhan, karena kata qital baerasal dari kata qatala yang artinya membunuh.Dan qaatala dengan qaf panjang, adalah musyarakah yakni saling bunuh-membunuh.

Maka dalam perang pasti ada pembunuhan. Sehingga seorang yang pergi ke medan perang harus siap mati, siap membunuh dan siap dibunuh. Berbeda dengan jihad dalam pengertian di atas, tidak tergambar adanya saling bunuh membunuh itu.

Dan orang yang pergi ke lapangan jihad, semisal hendak bertabligh, mengajar dsb tidak harus siap mati, kendatipun kematian itu seiring dengan kehidupan. Kalau di sana ada kehidupan, maka di sana ada juga kematian.

Secara tegas Allah berfirman dalam surah Ali Imron ayat 185 yang maknanya : Setiap orang pasti akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakannya pahalamu.

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Sedangkan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Qs Ali Imran 185 )

Kata “jihad” dalam al-Qur’an, memang kadang-kadang identik dengan qital. Tetapi, setelah ada pembakuan ilmu, oleh para pakar Islam, lalu dibedakan pengertiannya dengan qital, seperti yang kita sebutkan di atas.

Tak ubahnya dengan zakat, infaq dan shadaqah, semula tiga kata itu mempunyai pengertian yang sama. Tetapi, kemudian oleh para pakar Islam dibedakannya, sehingga masing-masing mempunyai pengertian tersendiri.

Kata “shalat” dalam al-Qur’an juga asal artinya berdo’a. Tetapi seiring dengan pembakuan ilmu, lalu shalat diartikan dengan suatu gerakan dan bacaan tertentu, yang didahului dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seperti itulah pengertian jihad ini.

Karena itu dalam kontek kekinian, kalau kita berbicara tentang jihad atau mendengar kata jihad, haruslah diartikan dalam pengertian di atas, yaitu ” Perjuangan menegakkan hukum Allah dengan penuh kesungguhan tanpa mengenal lelah, baik dengan lisan maupun tulisan”.

Kiranya dengan demikian, maka jihad bukan momok, jihad bukan menakutkan. Tetapi jihad adalah indah dan menggiurkan. Selamat berjihad.

Semoga Bermanfaat…Insya’Allah..
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Tk Dewi Rejeki dan Keluarga
Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s