TIGA FAKTOR UTAMA KEBAHAGIAAN

TIGA FAKTOR UTAMA KEBAHAGIAAN

Assalamu’alaikum…wr…wb.
Sahabatku yg diRahmati Allah…
Sesungguhnya kebahagiaan seorang hamba, baik kebahagiaan dunia maupun akhirat, akan terwujud pada tiga hal. Pertama, mensyukuri nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya. Kedua, bersabar dalam menerima berbagai cobaan yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba dengan penuh keyakinan bahwa itu semuanya merupakan ketetapan Allah SWT.

Ketiga, istighfar. Memohon ampun kepada Allah SWT dari berbagai dosa yang dilakukan seorang hamba. Hal ini disebabkan karena kehidupan manusia di dunia ini, tidak lepas dari tiga hal. Pertama, nikmat-nikmat Allah yang demikian banyak. Yang terus menerus diperoleh dari seorang hamba. Maka, karena hal tersebut diwajibkan oleh seorang hamba untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.

Dan mensyukuri Allah Dzat yang memberi nikmat itu. Kedua, bahwa kehidupan hamba tidak lepas dari berbagai ujian, berbagai musibah yang menimpa diri seseorang. Maka, merupakan kewajiban bagi seorang manusia untuk senantiasa menerima berbagai ujian dengan kesabaran atas ketentuan Allah dan qadho’Nya.

Dengan menyakini, bahwa yang menimpa dirinya tidak mungkin akan terhindar. Dan apa yang terhindar darinya tidak mungkin akan menimpanya, dengan senantiasa berharap dengan musibah tersebut mudah-mudahan diberi balasan pahala oleh Allah SWT. Ketiga, bahwa seorang hamba tidak terlepas dari perbuatan-perbuatan dosa. Maka dari itu, dituntut untuk bertaubat kepada Allah SWT untuk memohon ampun kepada Allah SWT dengan memperbanyak istighfar kepada Allah SWT.

Maka, kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba adalah apabila dia diberikan nikmat, dia bersyukur, apabila dia diuji, maka dia bersabar, dan apabila dia berdosa, maka dia mohon ampun kepada Allah SWT. Bersyukur kepada Allah adalah dengan mengakui dalam hati, bahwa Allahlah yang memberikan berbagai nikmat.

Allah SWT berfirman dalam surah Ibrahim : 7 yang maknanya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Pemberi segala nikmat adalah Allah, namun seringkali kita menganggap bahwa semua itu karena diri sendiri dan mengenyampingkan Allah. Bersyukur bukan tentang nikmat yang diberikan, tapi bersyukur kepada pemberi nikmat itu sendiri. Kita memberikan kegembiraan kita kepada pemberi nikmat akan nikmat tsbt. Namun seringkali syukur kita masih ditempatkan kepada nikmat & pemberian nikmat tsbt, bukan kepada Allah.

Kemudian dia mengucapkan dengan lisan, memuji Allah dengan lisan, dan bersyukur dengan anggota badan, yaitu dengan melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah SWT.

Allah SW berfirman dalam surah Saba’ : 13, yang maknanya : Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.

Kesabaran, memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, seorang dalam menghadapi ujian, dia harus menerima dengan iman kepada Allah, dan bertawakkal kepada Allah SWT. Karena orang yang beriman kepada Allah, Allah akan menunjuki hatinya untuk dia bersyukur, dan dia mengakui bahwa ujian itu datangnya dari Allah SWT.

Apalagi kehidupan kita merupakan tempat ujian di dunia ini. Maka, seyogyanya seorang hamba melatih dirinya untuk selalu ridha kepada keputusan-keputusan Allah. Untuk selalu bersabar dalam menghadapi ujian-ujian yang Allah berikan kepadanya.

Allah berfirman dalam surah Al Baqarah : 155, maknanya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Derajat Sabar ialah dengan tidak ada kebencian (tidak mempertanyakan) terhadap musibah yang menimpa. Sehingga yang harus ditampakkan adalah ridho, bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Sabar yang baik adalah bila orang yang tertimpa musibah tersebut tidak diketahui oleh orang lain (ia tidak mengumbar perihal musibahnya tersebut ke orang lain). Dan tidak dikeluarkan dari kata sabar apabila dengan linangan air mata.

Allahlah yang menurunkan penyakit dan memberikannya obat. Setiap penyakit diperlukan ilmu dan amal. Agama dan ilmu merupakan jalan keluar dari setiap permasalahan yang ada. Adapun cara memperkuat/menumbuhkan sabar adalah dengan :

1. Bermujahadah (bersungguh-sungguh); dengan pengetahuan yang kuat akan memperkuat agama dan iman.

2. Melatih dorongan Agama untuk melawan dorongan Hawa Nafsu; diperlukan pembiasaan, seperti pembiasaan pada anak kecil juga dengan kekuatan agama.

Memohon ampun kepada Allah SWT suatu urusan yang mulia di sisi Allah SWT sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW : Berbahagialah seorang hamba, yang dia menjumpai di dalam catatan amal perbuatannya penuh dengan istighfar, maka orang yang bahagia adalah orang yang memperbanyak beristighfar dan minta ampun kepada Allah SWT.

Balasan bagi orang yang banyak beristighfar, Allah akan mengampuni dosanya, dan Allah akan memberikan kepadanya berbagai macam nikmat, hujan yang lebat, harta dan kebun-kebun serta anak yang banyak.

Allah SWT berfirman dalam surah Nuh : 10-12, maknanya : Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,11. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,12. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh kepada kita, bahwa beliau dalam satu majelis dihitung, beliau mengucapkan istighfar, dan bertaubat kepada Allah, lebih dari 100 kali. Ini yang dilakukan Rasulullah SAW yang beliau adalah ma’shum (terhindar dari dosa). Berapa kalikah dengan kita yang banyak berbuat dosa ini?

Di dalam Alquran banyak cerita bahwa para nabi selalu mengajak istighfar. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya (Tsamud): ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS Hud [11]:61).

Kepada kaum Aad, Nabi Hud berkata, ”Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Huud [11]:52).

Banyak orang mengira bahwa istighfar atau taubat itu cukup hanya dengan lisan. Sementara perbuatannya tetap berlanjut dalam dosa-dosa. Istighafar seperti ini, menurut para ulama, adalah istighfar setengah hati. Al Ashfahani menerangkan, ”Istighfar artinya memohon ampunan dengan ucapan dan perbuatan. Maka, perintah Allah yang artinya mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (QS Nuh [71]:10).

Itu perintah untuk memohon ampunan dengan lisan dan perbuatan. Siapa yang mengatakan bahwa itu cukup dengan lisan saja, jelas itu perbuatan para pendusta.”

Imam An Nawawi dalam bukunya Riyadhush Shalihin berkata, ”Taubat adalah wajib atas setiap dosa.” Bila dosa itu berhubungan dengan Allah, syaratnya ada tiga. Pertama, tinggalkan dosa-dosa tersebut. Kedua, menyesal atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

Ketiga, bertekad untuk tidak mengulagi lagi. Tetapi, bila dosa-dosa tersebut besifat sosial, ditambah satu syarat lagi, hendaklah menyelesaikannya secara sosial, dengan mengembalikan hak-haknya jika berupa harta, atau minta maaf jika berupa ghibah atau sikap yang menyakitkan hatinya.

Banyak kisah sahabat Nabi SAW yang mengesankan, bagaimana mereka menebus dosa setelah bertaubat. Sebut saja, misalnya, Umair bin Wahab, setelah masuk Islam, ia sadar semasa kafirnya sangat memusuhi Nabi.

Bahkan, ia pernah bertekad untuk membunuhnya. Mengingat dosa ini, Umair minta izin kepada Rasulullah SAW untuk berdakwah langsung di tengah masyarakat Quraisy di Makkah. Rasulullah mengizinkannya. Umair berangkat. Di Makkah Umair siang dan malam berdakwah sampai tak terhitung jumlah orang-orang kafir yang masuk Islam karenanya.

Marilah senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan selalu merasa, bahwa kita dipantau oleh Allah SWT. Dan hendaknya kita menjadikan ketaqwaan sebagai perbekalan yang terbaik untuk diri kita, karena ketaqwaan merupakan wasiat Allah bagi orang-orang terdahulu dan bagi orang-orang yang datang kemudian.

Abdullah bin Amr ibn Ash, yang diriwayatkan oleh Baihaqiy dan yang lainya, bahwa ada empat perkara, apabila empat perkara ini ada pada seorang hamba, maka Allah akan membangun baginya istana di surga. Pertama, seorang apabila dia dipelihara/dijaga oleh Allah SWT, maka dia senantiasa mengucapkan laailaaha illallah (tiada tuhan selain Allah). Kedua, apabila dia diberi Allah dia selalu memuji Allah. Ketiga, apabila dia berbuat dosa, maka dia selalu memohon ampun kepada Allah.

Keempat, apabila diuji oleh Allah SWT dia mengatakan inna lillaahi wa inna ilaihi rooji’uun. (sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepadaNya kami kembali)
Semoga Bermanfaat…Insya’Allah..
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Tk Dewi Rejeki dan Keluarga
Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s